Tampilkan postingan dengan label meringis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label meringis. Tampilkan semua postingan

05 September 2012

kisah singa dan rusa

pernah mendengar kisah singa?
singa yang buta
buta karena rusa
rusa bertanduk domba

di ujung hutan pinggiran kali
singa tampak sedih
bukan karena buta
tapi karena hatinya yang luka

sementara di seberang perbukitan yang hijau
rusa sedang mengenyam rerumputan
sesekali tebar pesona
berharap manusia bijak mendekatinya
dan jika perlu
menyetubuhinya

dahulu
singa mengejar rusa sepanjang kekuatannya
bukan untuk dimakan
tapi untuk dijadikan pasangan

rusa yang merasa angkuh
karena kecantikannya
melihatnya sebagai kesempatan
untuk membalas dendam
atas tulisan langit
tentang singa memangsa rusa
dibuatnya singa kelelahan mengejar
dengan mata nanar
hingga 2 ujung akar jati menancap tepat
menyentuh kedalaman bola matanya

rusa tersenyum
singa mengerang

aneh memang
singa berhasrat memperistri rusa
tapi justru beristri buta

hati singa tersayat
perih,
melebihi sakit matanya
bagaimana bisa
niat baik menjadi luka
tak percayakah rusa pada singa?

“singa tetap singa”
kata rusa.
“tak pernah ada singa berhati mulia”
rusa meludah “cuih!”
“hanya ada singa berhati pemangsa”

singa meradang
“tak percayakah akan adanya keajaiban?”
“tentang lahirnya singa berhati mulia?”
“singa yang bisa mengucap doa dan merapal mantra”
“kau boleh membuatku buta”
“kau boleh meludahi niatku”

singa kemudian bersila
merapalkan mantra-mantra

alam mendengar

singa yang mengucap mantra
adalah singa yang terluka
dan selama ini pula
belum ada singa merapal mantra
karena mantra singa adalah bencana
kutukan atas tulisan langit

mantra singa
“jadikan rusa bertanduk domba”
“berkelamin wanita dan berkaki dua”
“tak pernah bahagia sepanjang hidupnya”

singa terdiam
menitikkan air mata
untuk mantra terakhir

singa yang malang
buta dan luka
tapi rusa?
dia sedang menjalani mantra singa
tanpa sengaja
dan itu bencana.

ruang buku/05/09/12/ 09.41

23 Mei 2012

elegi

seperti belajar berhitung, dimulai dari angka terkecil dan kemudian berlanjut ke angka yang lebih besar. seperti juga anak kecil yang mulai belajar berjalan. pelan selangkah demi selangkah. mungkin itulah yang dinamakan sebuah proses. proses yang sesungguhnya.
usiaku sudah tidak muda lagi saat ini (untuk anak ukuran abegeh, atau anak kuliahan)sudah terlanjur meluncur tak terkendali. tahun demi tahun terlewati begitu saja tanpa sadar (mungkin sengaja gak sadar kali ya..). tahun yang terlewat menjadi seolah selebrasi hura-hura belaka. kerja, pacaran, dan hobi kadang melenakan semuanya. bayangkan saja, kerja udah tahunan tapi tabungan gak ada. pacaran berkali-kali, yang nyangkut jadi istri nol. punya hobi bukan menghasilkan malah bikin kantong jebol.

yang paling mencolok terkahir adalah momen pacaran. ujung-ujungnya kayak ketipu aja. terlalu serius di awal eh ternyata gagal. sebagai laki-laki berumur jelas aja aku kecewa. waktu berjalan dengan cepat tapi perjalanan malah tersendat. yah...pelajaran yang tak ternilai harganya kalau boleh aku bilang.

"ngopo dhe melamun aja kerjaannya?"

"huhalah...gak tahu ni jo, galau.." mulut melebar.

"galau udah jadi trendmark yah sekarang dhe?" dalijo meringis

"iya ababil punya, menjangkiti golongan tua kolot konservatif, buah!" perangai sewot.

"eh dhe, kemarin kayaknya jalan sama seseorang ya?" dalijo mengedip2kan matanya.

"jalan sama siapa jo?"

"halahh..pura-pura. rambut panjang itu lho?"

"kunti, rambut panjaaangg. hadeeeh.."

"beneran ki dhe, calon ya?"

"mulai nih, ngeledek ya.." aku menghela nafas.

"ahahaha...udah deket dong..kapan ki?" dalijo mrenges.

"gak tahu jo, kayaknya gagal kalo ngeliat gelagatnya."

"lho lho..gagal gimana maksudnya?"

"ya gagal, gagal karena angel, sulit, sukar.." mulai ngegas nih suara.

"emang ceweknya gak mau ya dhe? atau orang tua yang gak setuju?"

"mungkin aku yang salah jo, atau mungkin ini nasib. tak pikir dia siap denganku kapan saja, dimana saja, tapi ternyata tidak begitu nyatanya."

aku berhenti sejenak. memoriku menangkap kepedihan yang syarat dengan kecewa. kenapa semua berjalan tidak sesuai dengan harapan. kenapa dia tidak menganguk saja. menyetujui ajakanku. menyetujui rencanaku. kenapa dia seolah menolakku? sehingga yang kutangkap malah sebenarnya dia mempermainkan perasaanku. sudah tekad bulat aku menjalaninya, tapi tiba-tiba sikap penakut dan (mungkin) pengecutnya meluruhkan semangatku. mungkin dipikirnya aku memaklumi saja penolakannya, mungkin dia berpikir bahwa aku masih anak-anak, atau dia sendiri yang masih anak-anak, penuh dengan sikap labil dan ababil. bagi laki-laki dewasa, diam adalah tanda setuju, dan senyum adalah tanda dukungan. tapi ternyata bagi dia, diamnya dan senyumnya, bermakna sebaliknya. kata-kata yang diucapkan seperti sekedar basa-basi manis yang malah menjadi arsenik dalam tubuhku. makin lama makin menggerogoti keyakinan dan kepercayaanku. lebih parah lagi malah menggerogoti stamina laki-lakiku. ah, kuharap kau tidak mempermainkanku seperti ini. kuharap kau mau mempertanggungjawabkan makna senyum dan diammu itu saat diawal pertemuan. ah...

"mungkin belum saatnya dhe, mungkin Gusti Allah masih ngetest mental sampeyan dan dia, dhe. bukankah untuk menjalani tahap selanjutnya harus ada tes kelulusannya dhe? mungkin kayak sekolah dhe, harus naik grade, dari 1 baru 2, kemudian tiga dan lulus. setelah itu menginjakkan bangku kuliah (kehidupan) yang sesungguhnya. bersabar saja dhe, Gusti Allah lah sang pemilik hati manusia. siapa tahu dia diberi petunjuk dan kalian diberi kemudahan untuk bertemu."

"jo, sesimpel itukah jo?"

"Tidak ada yang tidak mungkin dhe, ingat, terkadang Gusti Allah mencoba kesabaran hamba-Nya. apa yang kita minta, apa yang kita harapkan, tidak sekaligus (mungkin) langsung diberikan kepada kita. tapi melalui test-test cantik yang kita (terkadang) lupa akan hikkmah dibaliknya. yakinlah dhe, jangan lupa berusaha terus dan berdoa sebagai bagian pamungkasnya."

ditepuknya punggungku.

"Gusti Allah Maha membolak-balikkan hati manusia dhe. sekarang belum besok sudah, sekarang tidak besok iya, sekarang tidak siap besok justru menunjukkan kesiapan. berdoalah padanya dhe. di tangan-Nya tidak ada yang tidak mungkin"

sore itu begitu jingga. kulihat sepasang burung tekukur terbang beriringan, hinggap di rerimbunan pohon rambutan. tiba-tiba aku merasa menjadi tekukur itu.




10 Mei 2012

ketika dibanting perempuan..

kali ini giliran bathinku tertunduk lesu. kecewa, sedih, dan marah bercampur padu. gak tahu lagi buat mendeskripsikan perasaan macem apa yang sedang menguasai bathinku. haduh, dalam pekerjaan saja sudah macam anak tiri, ditambah masalah p-e-r-e-m-p-u-a-n, bah!. tadinya sih pengen biasa aja menyikapinya, tapi ternyata tetep aja gak bisa.

kupikir pekerjaanku baik-baik saja, tapi ternyata tidak. atasan, bawahan, rekan kerja ternyata makin berkurang rasa kesetiakawanannya. yah..hakikat manusia memang selalu pengen survive dimanapun tempatnya. kalo udah ngerasa aman dan baik bagi dirinya, ya nasib temen lain "ya itu masalahe sampeyan"...jiah, ungkapan Homo Homini Socio-nya serasa berkurang maknanya. tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. sebagai manusia memerlukan pengertian, kasih sayang, harga diri pengakuan, dan berbagai rasa emosional lainnya. akupun juga membutuhkan itu. -busyet mulai dah ceramah :Cd- intinya sih, kalo dalam lingkungan kerja ya sejawat seharusnya saling membantu lah, siapa yang lagi bermasalah dengan pekerjaannya ya dibantu. karena setiap pribadi tidak mungkin lah bisa berjalan sendiri. masing-masing saling mendukung dengan perannya masing-masing dalam kapasitas interaksi sosial. tapi ya sudahlah, semua sudah terlanjur semoga saja keberuntungan selalu berpihak padaku. (curhat neeh..).

eh, baru dibanting ama kepasrahan pekerjaan, datang lagi kepasrahan yang lain. haduhh..(sebentar aku minum kopiku dulu...sruputtt..).

"hayyo, pagi-pagi dah kusut muka". bujuggillee..dalijo bikin kaget saja.

"kamu pagi-pagi udah mbikin kaget saja jo". jawabku kenceng ngegas.

"wuallaaahh..sorri mas, lha aneh wae, gak biasanya pagi-pagi mas de udah kusut merusut gitu mukanya. biasanya cengengas-cengenges sambil melintir gas rx kingnya." kata Dalijo.

"kalo pagi ini, sekarang ini aku malah pengen melintir kupingmu jo" kataku sambil tertawa ngakak.
muka dalijo berubah kecut. melengos.

"eh mas de, ada apa to? mbok cerita-cerita ke dalijo, gantian gitu. biasanya kan dalijo terusss yang curhat, nah sekarang giliran mas de yang cerita. siapa tahu bisa menumpahkan uneg-uneg nya. biar enteng malinteng"

"waduh waduh, dapet kosa kata baru nih. "enteng malinteng" dari kamus mana lagi nih jo?"

"wakakaka...kenapa to mas de?" kali ini mimik dalijo terlihat serius. seperti biasa, dalijo membetulkan sarung kotak-kotaknya untuk kemudian duduk disebelahku. belum sempat aku ngomong, dalijo udah menyela lagi.

"gak sambil ngerokok mas de?" dengan mimik setengah nyengir.

"sudah 12 batang kuhabiskan pagi ini jo" kataku enteng. mata dalijo terbelalak. sarungnya melorot begitu mendengar jawabku.

"jo, menurut kamu perempuan itu apa?"

"lho ya perempuan itu wong wedok, wanita, bisa hamil, melahirkan..."

"hasyahhh.."

"jo, kalo perempuan hanya sesimpel itu, aku gak bakalan mumet seperti ini."

"ya tergantung perempuannya juga to mas de. mungkin gak semua wanita mumet mremet mbrebet"
weladhalah..dapat kosa kata baru dari mana lagi si dalijo.

"betul juga ya jo, tidak semua p-e-r-e-m-p-u-an itu mbrebet ya."

"ya dalijo ngerti kok mas de, mas de lagi bermasalah dengan pe er pu pan." dalijo merenges ndrenges. kemudian melanjutkan perkataannya.

"mas de, kalo milih wanita jangan yang nunak nunuk mas. kalo mas de milih yang nunak nunuk, mas de yang bakalan terbuang sia-sia waktunya. sekarang bilang iya, besok sudah lupa lagi, itu ciri-ciri pe er pu pan nunak-nunuk. kalo didepan ngomong iyes, nanti di belakang beda jawaban, beraninya cuman lewat es em es. esuk dele sore tempe mas de."

"kamu benar jo, aku kadang ngiri ngeliat ginem mu jo. dia begitu konsisten menjalin hubungan denganmu. kamu beruntung jo."
dalijo tersenyum mendengar ucapanku.

"ginem memang wanita sederhana mas de. dia bisa memahami kondisiku. pola pikirnya pun sederhana mas. dan yang bikin aku salut sama ginem -boleh dibilang makin cinta- dia berani menghadapi resiko apapun mas. dia tidak peduli aku kerja apa, penghasilanku berapa, nanti bagaimana. dia selalu bilang: "kang, sebagai makmum aku ngikut maunya akang dalijo. yang jelas, saat ada rintangan di depan, ada ilalang tinggi menghalang, badai gelombang menghadang, kita hadapi berdua, saya percaya kang dalijo. saya percaya Gusti Allah mboten sare. Gusti Allah pasti membantu dengan Rahman dan Rahim-Nya kang." Dalijo berhenti sejenak. senyum bahagianya mengembang.

"itulah mas, ginem manteb menjalaninya denganku. meskipun dengan kesederhanaan kami berencana untuk segera menikah mas de."

"aku kagum dengan ginemmu jo."
dalijo tersenyum.

"dulu aku mengenal dia dengan kepercayaan jo. kutegaskan kalo menjalin hubungan denganku harus siap beresiko aku nikahi secepatnya. aku percaya dia siap jo, karena dari awal dia sudah tahu resikonya." kuambil sebatang rokok lagi. kumain-mainkan dengan tanganku.

"kulihat sikapnya saat bersamaku, dia menyiratkan kesiapan. itu membuatku makin yakin dan percaya. sepertinya aku semakin buta saja menyikapinya. aku menerima isyarat-isyarat kesiapannya secara bodoh. dan aku benar-benar merasa bodoh sekarang."

"dia menyikapi keseriusanku seharga sms jo."

"sabar mas de, dia tidak siap dengan mas de. atau bisa jadi dia sedang mencari yang lebih dari mas de."

kusulut sebatang rokokku. kuhisap dalam-dalam. asapnya masuk ke dalam dadaku, tenggorokanku, mungkin masuk juga ke paru-paruku. menyesakkan, seperti mau batuk darah rasanya.

***

"aku minta maaf mas, aku tidak bisa menjalani dua-duanya secara bersamaan." sebuah pesan singkat yang mungkin tak terlupakan sepanjang hidupku. jawaban masa depan hidupku dijawab seharga satu sms.


***





24 April 2012

kalian melupakanku

pagi tadi sekawanan burung bercericit ria di dahan pohon persis disamping bangunan tempatku berdiri. ramai sekali cericitnya, sekilas terdengar merdu. semakin lama bercericit, bukannya semakin merdu, tetapi malah terdengar seperti mengejekku..

akupun hanya bisa mendengarkan saja, karena aku tidak bisa ikut bercericit seperti kawanan burung itu..(merem terus melek)

03 Maret 2012

ini tentang memahami perasaan pasangan

Pagi ini, mendung membuat langit gelap. Hujan sepertinya hanya menghitung detik. Dalijo bergegas bersiap-siap berangkat kerja. Berkali-kali dilihatnya langit lewat kaca jendela rumahnya.
"eealah...makin gelap to langitnya..."
Dikeluarkan motor kesayangannya dari rumah.
"berangkat Jo?" pak Kasman mendorong sorong merahnya yang penuh dengan pupuk kandang.
"iyo pak, waduh pupuknya masih seger" Demi diliatnya pupuk kandang yang menghitam dan berasap.
"emange buah jo, seger?" Balas pak Kasman sambil ketawa.
Dalijo masih sibuk mengikat tali sepatunya. Sepatu konfers kw 1 buatan bandung. dibelinya setahun yang lalu secara on line (busyeenggg..dalijo belanja on line). yah..harap maklum, gaji yang pas-pasan, cenderung sempit membuat dalijo terpaksa membeli produk bajakan.
"wah, berangkat kerjo ya mas?"
Dalijo menengok ke asal suara tersebut, ternyata dari si mbah (bukan mbah dalam arti sebenarnya, tapi nama panggilan untuk tetangga sebelahnya dalijo).
"iya mbah, malah mendung ki, bikin males wae"
Beberapa saat daliojo terlibat percakapan haha-hihi dengan si Mbah. tak berapa lama kemudian Dalijo menghidupkan rx kingnya dan langsung melesat berangkat kerja.
Langit masih mendung, dan sepertinya air hujan tinggal menunggu detik.

***

Kurang puas dengan teh anget pak Alex, Dalijo pergi ke salah satu warung kopi langganannya. Kopi kental dan panas akhir2-akhir ini sering banget dinikmati dalijo (meski kebiasaan ngopi udah dari remaja). Sinambi sedikit menikmati rokok (kebiasaan buruk) masih berlangsung. Apa lagi saat mengalami tekanan hidup yang luar biasa, segelas kecil kopi panas sudah cukup membuat kepala agak plong.

Dalijo teringat kejadian debat dengan Dalinem. Keinginan kuat untuk menemani Dalinem balik ke Semarang ternyata tidak bersambut. Dalinem memilih berangkat sendiri dengan bus. Padahal niat Dalijo hanya sekedar bisa berduaan bersama Dalinem. Toh Dalinem malah milih mending sendiri. Agaknya hal ini membuat dalijo berpikir bahwa memang Dalinem tidak menangkap isyarat keinginnanya itu.
"aku besok berangkat naik bis wae kang" kata Dalinem
"emang kenapa nem?"
"aku gak mau berpanas-panasan naik motor"
"ya kita berangkat pagi to nem?"
"tapi aku kesel kang, pengen naik bus aja biar bisa tidur diperjalanan" Dalinem tetap bersikukuh dengan keputusannnya naik bus.
"kamu gak mau ya dianter pake motor ku?"
"bukan begitu kang,panas diperjalanan."

Malem harinya dalijo menegaskan keinginannya untuk mengantar Dalinem sekaligus bisa menikmati kebersamaan dalam perjalanan berdua. Dalijo memang jarang banget bisa ketemu Dalinem. Jadi moment-moment perjalanan selalu ingin Dalijo manfaatkan untuk selalu bersama Dalinem.
"besok jadi aku antar nem?" kata Dalijo lewat sms.
"aku naik bis wae kang" balas Dalinem.
"apa kamu gak mau tak anter nem?" Dalijo memelas.
"kang, aku capek banget. merasa kedinginan. kemarin waktu aku ke tempat kang dalijo gak pake jaket. aku kedinginan, dan itu masih kerasa sampe sekarang kang. dingin banget, kepala pusing-pusing. aku naik bis aja."
"nem kenapa gak mau tak anter?"
"udahlah kang, gak usah menambah masalah. aku minta pengertian kang Dalijo. jangan menyudutkan aku dengan masalah seperti ini, seolah-olah aku bersalah jika menolak ajakan kang Dalijo. aku pengen berangkat ke Semarang tanpa ganjalan."
Dalijo cuman bengong saja mendengar alasan Dalinem.

***

Pagi jam 5.30 sebuah pesan dari Dalinem masuk.
"kang, aku berangkat sekarang."

Dalijo cuman terdiam membaca sms singkat Dalinem. pagi ini mendung masih menggelayut di langit. air hujan tinggal menunggu detik.


***

01 Agustus 2011

wanita

satu hal yang paling tidak aku mengerti adalah wanita. sosoknya begitu misterius. kadang mendekat, kadang menjauh. berulang-ulang. senyumnya bisa jadi adalah deritanya, tapi tangisnya bisa jadi itu haru bahagianya.

saat aku merasa melakukan hal yang benar, saat itu pula aku merasa melakukan hal yang salah di matanya. begitu juga sebaliknya..

wanita...kau adalah misteri..

itulah kenapa sang pria tidak bisa berpaling darimu....

15 Juni 2011

batang tua patah

camarku'

aku hanyalah batang tua kering
yang menunggumu lelah
untuk sejenak hinggap,
lalu terbang lagi
lebih tinggi.

aku tahu,
saat itulah aku jatuh
patah.




...

14 April 2011

waiting

........................
All because I miss you so
In the distance I can see
The island of my home
Oh... I like to be with you
"Sail Over Seven Seas"

26 Maret 2011

syair pinangan

Tuhan..

dengan segala berkah dan keselamatan-MU
dengan segala ridlo dan karunia-MU
aku bersimpuh luruh,
bersujud..memohon
pinangkan dia untukku....

26 September 2010

kumbang dan kunang

kumbang dan kunang

siapa kumbang dan siapa kunang,
kunang,
kapan ketemu kumbang?

ah...

kunang-kunang, kumbang-kumbang,
begitu sepinya malam,
sampai harus memanggil kunang dan kumbang.

ah...
kunang dan kumbang,
sampai kapan temukan siang?

08 Februari 2010

Surat Dalijo untuk Ginem

Teruntuk ...Ginemku

Nem...

Kang dalijo selalu ngarep Ginem masih punya ladang kesabaran yg luas, yg banyak ditumbuhi rerumputan hijau. Ladang dimana kang Dalijo bisa sekedar klekaran menikmati hijaunya rerumputan di kala merindu dan duduk di atasnya tanpa harus takut ulat-ulat kecil. Kang Dalijo yakin Ginem tahu benar apa yang kang Dalijo rasakan. Perasaan yang selalu menggelagak untuk sekedar mendidihkan ubun-ubun, menelikung degupan jantung untuk sekedar cemburu.

Untuk setiap kekhawatiran yang Ginem rasa, kang Dalijo pun merasakan hal yang sama bahkan mungkin lebih. Andai Ginem tahu, sebenarnya kang Dalijo deg-degan takut Ginem tidak sanggup lagi menunggu. Takut kalau Ginem jengah dalam penantian dan akhirnya menyerah, kabur meningalkan kang Dalijo thilang-thileng dalam sunyinya penantian.

Kang Dalijo merasakan waktu berjalan begitu lambat thimak-thimik. Pekerjaan Ginem yang sepertinya tak kunjung selesai, walau sudah Ginem kerjakan sepenuhnya, adalah ibarat jam pasir yang berisi butiran kerikil. Kaku mbegegeg tanpa ada niatan untuk bergerak. Kang Dalijo pengin Ginem segera mengakhiri ini dan segera kembali ke pelukan kang Dalijo. Mewujudkan apa yang telah Ginem dan kang Dalijo perjuangkan. Sebuah kehidupan sederhana yang kita citakan. Kehidupan yang didayung oleh cinta dan sayang dalam pelayarannya.

Atas kesabaran Ginem, kang Dalijo hanya bisa mengucap terima kasih. Semoga saja Ginem selalu memberikannya tanpa sekalipun kering oleh waktu. Dan jika kang Dalijo boleh meminta, kupinta ridlo-Nya agar Ginem bisa menjalani sepanjang hidupnya bersama kang Dalijo dalam keberkahan dan kebahagiaan.

Segala perhatian dan cinta kasih Ginem, semoga Dia membalasnya dengan keikhlasan dan kebahagiaan yang senantiasa terlimpah buat Ginem. Karena kang Dalijo tidak cukup bisa membalasnya dengan apapun. Semoga Dia selalu membukakan pintu syukur dalam hati Ginem untuk nanti bisa berbakti sama kang Dalijo (cozy). Begitu juga sebaliknya, pintu hati kang Dalijo dipenuhi rasa syukur untuk selalu menyayangi dan menjaga Ginem sepenuh hati.

Dan untuk semua yang kang Dalijo dapatkan dari Ginem, apa yang telah Ginem berikan, lakukan, dan pertahankan , kang Dalijo hanya bisa mengucap "...Lillahi ta'ala..kang Dalijo sayang Ginem (cozy)." Semoga karena-Nya lah rasa ini ada dan karena-Nya jugalah kita menjalaninya.


"Aku tidak harus lantang berteriak, namun cukup berbisik, karena aku tahu kaupun akan membisik. Bahwa kaupun menyayangiku sebagaimana aku menyayangimu." (quote from Dalijo's deepest heart).

segeralah kembali Ginemku..

Kang Dalijomu


****


.

31 Januari 2010

meriang...

Reff:
aku rindu setengah mati kepadamu
sungguh ku ingin kau tahu
aku rindu setengah mati


setengah kriyip-kriyip dalijo mendengarkan lagu itu. lagu dari spesialis menye2 D'Nasip (maap ya D'Masiv...dalijo kpleset). melamun lumayan lama. menghela napas."huffttt". selalu teringat ginem. apalagi sejak seminggu terakhir ini. bukan apa, hanya sekarang dalijo gak bisa menemui ginem sak udele dewe. ginem sekarang di Tangerang. dan dalijo yang berprofesi sebagai pangon tinggal di lereng sumbing.

"nem..nemm...kang dalijo kok ya kangen ginem terus ya.." dalijo menyat dari kasur...nonton jam gendongnya. baru juga pukul 5 pagi tapi rasa menye-menyenya dah mulai kumat. bergegas dalijo bersubuh ria. *set set set* selesai. dan parahnya..dalijo malah mapan mlungker lagi. digenggamnya hape sejuta umat warisan temennya dari klaten. meski dengan batere low bat..dipaksanya menghubungi ginem.

"tat tit tut...tuuuuttt...tuutt..."

ginem: "assalamu'alaikum kang..."
dalijo: "wa'alaikumsalam nem...mpun subuh?" (dipepetnya hape ke telinga)
ginem: "mpun kang..lha kang dalijo mpun?"
dalijo: "mpun nem.."
ginem: "kang dalijo ngopo kok gasik mpun tilpun ginem?"
dalijo: "kang dalijo meriang nem..meriaaanggg"
ginem: "kang dalijo sakit? sakit opo?kapan?" (panik)
dalijo: "iyo sakit.ora penak..ya (sakit) meriang nem..kapan ya? (kukur-kukur sirah)
ginem: "mpun mimik obat?"
dalijo: "obate dah gak mempan semua nem" (dengan nada sedih)" ke pak rt gak punya..pak kadus gak ada..tapi kata pak kyai malah bilang suruh ke pak naib"
ginem: "kok malah pak naib kang.bukane ke bu mantri?" (heran)
dalijo: "bu mantri tak ceritani sakitnya malah ketawa ngakak nem"

"pettt"
batere kolap...hape mati. dalijo panik..dipencetnya kuencengg...tombol power.
"byarrr..." nyala lagi...tapi "celeeett" warning "baterai lemah"
dalijo sedikit sumringah...diulanginya lagi.."tat..tit..tut..tuuut..tuuut.."

ginem: "kang kok mati..."
dalijo: "iyo batere sekarat"
ginem: "tadi kang dalijo bilang bu mantri kok ngakak gimana maksudnya?" (ginem malah cemas..dipikirnya dalijo mulai miring)
dalijo: "bu mantri malah ngomong kalo sakitnya kang dalijo itu namanya **meriang**. obatnya hanya bisa dibeli di pak naib"
ginem: (bingung..ternyata pak naib sekarang jualan obat).."meriang ?"
dalijo: "iya..meriang..merindukanmu sayang."
"pettt..." batere koit. tapi pesan meriang telah tersampaikan.

hati ginem mak cesst...kang dalijonya tidak miring..tapi kangen kehadiran dirinya.
meriang...dalijo meriang..bukan demam atau ndrodog...tapi merindukan ginem sayang.

29 Januari 2010

mules

males merupakan penyakit yang paling banyak menerpa umat manusia. "ssttt dhe...bukannya mules??" "whuaaa?"(tepok jidat) "ralat...mules ya....?"(cengar-cengir). berarti mules juga sering sekali menerpa umat manusia dong...:P.

dalijo: "nem...kemaren kok kamu ngglenes lungo?"
ginem: "habis kang dalijo aneh-aneh ae. minta pegang2 tangan. emange sapi apa bisa dipegang-pegang" (mreketut= ngotot)
dalijo: "yo bukane gitu nem..itu kan tanda sayang saya, cinta saya ke kamu. lha gimana mau sayang kalo belum pernah pegangan tangan?" (ngglesot di sebelahe ginem)
ginem: "nah..nah..mulai ngombal lagi. kang dalijo ki aneh-aneh ae. mbok ya o pacaran ki yang wajar saja. gak usah pake pegang-pegangan tangan..malah kemaren kata mas anoman ada istilah kulmutsu segala, apa ndak bahaya itu nanti...(sedakep ala kanjeng mami dimulai).

demi melihat gaya kanjeng mami, dalijo mulai kelimpungan. maka dimulailah ajian merayu nggombal;nya untuk sekedar menaklukkan teknik sedakep a la kanjeng mami.

dalijo: "ojo galak-galak nem, iku bibire elek..njedir. ura manis maneh."
ginem: "hemfh" (muka memerah)
dalijo: (makin semangat menjalankan aksinya) "iya kamu manis lho nem...dan aku suka dengan wajah-wajah yang manis seperti ginem.." (merenges)
ginem: (byuhhh...rayuan jadule metu)"prettt...!"
dalijo: (nyedaki ginem) " nem...kata orang dalam pacaran itu wajar kok kalo cuman pegangan tangan. itu -katanya-juga akan mempererat rasa sayang."
ginem: "hush...wajar dari hongkong!..kang dalijo kudu inget. kita belum sah. jadi gak boleh pegang-pegang."
dalijo: "walllahhh..."(

ujug-ujug mak brabat dalijo lari meninggalkan ginem yang masih sedakep. ndak peduli sarungnya ucul (lepas), sandal jepit sebelah kirinya nyangkut di akar pohon jambu, dalijo tetep kenceng larinya. bahkan kalo ndak salah ginem juga sempat ngeliat dalijo jatuh nyeluruk dengan janggut nyungsep di kembang jinten (kembang yang daunnya bergerigi duri,warna bunga putih tapi getahnya paitnya minta ampun,dengan bau khas).

ginem merasa bersalah dengan kejadian barusan. thenger-thenger mukanya. terpikir oleh ginem untuk meminta maaf atas kata-katanya yang mungkin gak pantas terucap. ginem menganut budaya jawa yang begitu menghormati kaum laki-laki. terlebih dalijo adalah orang yang sangat dicintainya. agak berkaca-kaca mata ginem. sedih berasa telah melukai perasaan kekasih hatinya.

ginem: "kang dalijo..kaaangg...ginem salah ngomong yo..." (ginem duduk dengan wajah sedih) lama banget nunggu dalijo. mbok-mbok dia kembali menemuinya. tapi udah hampir setengah jam dalijo gak kembali. sambil setengah mewek, ginem beranjak pergi ke rumah dalijo. rasa sayangnya yang hebat menguatkan niatnya untuk menemui dalijo. *betapa cinta telah melumatkan rasa benci menjadi sayang. perasaan takut untuk ditinggalkan...dan perasaan untuk saling manjaga perasaan*

ginem: "kang...ginem minta maaf nek omongane ginem gak enak di ati. bukan bermaksud menyakiti kang dalijo. mung ginem gak mau nanti pada saatnya greget sayangnya berkurang."

dalijo mung meneng karo pringas-pringis. sesekali mlengos...ginem panik. setiap dia ngomong minta maaf dalijo mung mlengos sambil mukanya merah (ngampet). makin panik ginem. dikiranya dalijo marah berat. ..."duh duh..piye iki..gaya kanjeng mamiku kok malah dadi bumerang.." (mondar mandir di depan dalijo). dalijo malah bingung. menyat ngadek..(gubrak)...kursi yang ditempatinya njengkang..dalijo langsung mbrabat mlebu umah. ginem mewek-mewek...mripate basah.

ginem: "kaangg...nesu ya..?"
dalijo: "ginem ki ngopo sih...kok malah mewek?" (sambil mbenerke sarung ngepire. celono kolore keliatan belum presisi masangnya.) sementara wajahnya pucet ndrejet.
ginem: "kang dalijo nesu karo ginem ya?" (ndak disangka tangannya meraih tangan dalijo)
dalijo: "wuih..." (seneng tangane dah dipegang ginem)terus ngguyu nyekakak...
"lha wong aku ki mung mules mergo kakean mangan sambel ki mau. dadine mlebu metu WC to ya."
ginem: "kang dalijooooo...ngapusiii..rugi tangan ginem..(tangane dalijo dikipatke ginem. sarunge dikrukupke raine dalijo) ginem ngeluyur pergi...*tiwase nangis-nangis ki mau..jebule mules tok*. isin berat gineme..

begitulah cinta...benci dan sengit (bener-bener cinta dan sayangnya selangit). oalah dalijo ginemm...ono2 ae..

:P

.

27 Januari 2010

never let go

take my hand and never let go...
hampir mirip lirik lagu ini memang...:P..simpel bukan stempel. tapi bagi dalijo ini mungkin diwujudkan dengan megang tangan dan meluk beneran (eh meluk? gak kayake nek meluk) *sortir kata meluk dhe*..(oke gak ada dalam dialog). dasar dalijo.

ginem: "yo ngunu ikulah kang artine..."

dalijo: "ginem kok inggris2an to saiki?"

ginem: "kan kemajuan kang.." (muka memerah)

dalijo: "eh, nem...emange nek ning inggris kono ki pacarane make pegang2an tangan po?" (kukur2 sirah..pengen yak e).

ginem: (mesem, terus ngomong)"lha yo ndak tahu kang...ginem yo ora ngerti,yen ning tipi2 kae ketoke sih ngono iku. emange napa kang dalijo ndadak serius ngobrolke hal ini"

dalijo: (muka nano-nano)"emm anu...anu..." (meringis mencurigakan).

ginem: (ngakak)" hayyah...ginem tau sekarang...duso.ura ilok!"

dalijo: "kan mung megang tangan tok nem..."(meringis mencurigakan)

ginem: "yen merhatikan guyune mas ki..ginem gak yakin"

dalijo: (kukur2 sirah..terus mondar mandir di depan ginem) "sepertine tangane ginem ki alus, mulus..mangkane kang dalijo penasaran pengen ngerti" (merenges)

ginem: "pengen ngerti ato pengen megang?!" (rodo galak).

dalijo: "kan pengen koyo orang-orang inggris iku. bisa pegang tangan, terus anu.."

ginem: (menyat, ngadek, berdiri) "anu opo kang..sing jelas! iku menimbulkan persepsi negatif buat ginem.."

dalijo: (peringas peringis) "maksude ki pegang tangan terus tangane disun koyo nek filem2 iku nem"

ginem: "nah..nah..kang dalijo ki mulai ngeres. medeni ginem nek kayak gitu. iya kalo yang dipegang tangane tok..lha kalo melebar ke samping dan ke atas? sapa yang njamin?"

dalijo: "sekali iki wae lah pegang tangannya...ya ya ya?" (ngalungke sarung)

ginem: "wegah ah kang...wedi..takut ginemnya" (sedakep mirip ndoro mami-nya sule)

dalijo: "janji nem..kang dalijo janji. ora aneh2.cuman pegang tangan thok wes" (mrenges njelehi)

ginem: (setengah teriak) "oalahh..kang dalijoooo...dalijoo. kono megang sikil sapi ae nang umah.dijamin ora nesu." (ginem ngeloyor pergi)

dalijo cuma ndelelak-delelek.mungkin kepalanya juga kremut-kremut karena gak kesampaian ngodor bin ngebetnya..

ya pacaran....awalnya memang cuma pegang tangan, tapi lama2 bisa jadi pegang kepala..:P


:P

23 Januari 2010

dalijo dan ginem

dalijo :
"jangan pernah bilang kau tak sempurna..karena aku tak butuh kesempurnaanmu. cukup katakan saja :
Ku hanya ingin...
'Tuk selalu menjadi... yang terbaik untukmu...(ecoutez)
karena kang dalijo juga akan selalu mengucap:
aku rindu setengah mati kepadamu(d'masiv)
jangan pernah bilang ini adalah kasmaran ataupun gombalan. karena ini adalah nyanyian hati chintamie atmanegara dan nyanyian rindu ebiet g. ade.."

ginem : "kang..ampun nggombal-nggombal ah.."
dalijo : "iki ora nggombal...iki tenanan.."
ginem : "he em? (tersipu)"
dalijo : "eh he em..iya. (berdiri tapi lupa bebedan sarung)

wajah ginem tersipu malu. dalijo seneng..bahagia..

dalijo : "kamu kok malu-malu gitu nem.." (tanya dalijo sambil meringis mesem)
ginem : "lhah niku sarunge mlotrok..."(tutup mata dengan telapak tangan)
dalijo : "wualah...jebule tenanan mlotrok to...yo maaf yo nem..sengojo."

akhirnya dalijo dan ginem cuman mesam-mesem berdua. kepala ginem bersandar
khidmat di pundak dalijo..

ginem : "kang dalijo..."
dalijo : "ginem..."

hepi endingnya diiringi lagu indah dari a moment like thisnya kelly clarkson.


:P

06 Januari 2010

ode sedih

ketika aku harus memilihmu, itu karena aku memang sudah memilih. aku memilih dengan perasaan sepenuhnya. aku tidak menyisakan sedikitpun perasaan itu untuk kusimpan sendiri. biarlah itu sepenuhnya untukmu seorang. karena memang aku tidak bisa untuk berpaling dari bayanganmu. kalau toh kemudian itu membunuhku pelan-pelan, maka akan kuterima dengan senyum ketulusan. senyum sebagaimana aku tulus untuk mencintai dan menyayangimu sepenuhnya..
love u rose

10 Mei 2009

IBSN: best I ever had

mon parent

Aku baru saja tiba saat suara itu memanggil. Begitu halus dan lembut ditelinga..
“mbok istirahat ndishek, ojo mlayu-mlayu ngono”.
“ aku harus cepat-cepat menyelesaikan ini. besok adalah hari terakhir aku harus setor”. Jawabku. Kuperhatikan garis-garis di wajahnya. Begitu jelas menggambarkan kerasnya kehidupan yang ia lalui.
“ya minimal maem dulu, nanti maagmu kumat”. Dia memandangku dengan tatapan penuh.
“tinggal beberapa lagi, kalau tidak diselesaikan keburu pergi orang-orang”. Segera kuambil tasku, dan bergegas pergi. Kulihat dia hanya memperhatikanku. Mungkin dalam hatinya bergumam *wes gede kamu sekarang, semua harapanku kutaruh nang pundakmu. Jangan kecewakan aku nak*
***
Dia sudah tua, tapi telah memberiku segalanya. Sementara aku belum memberikan sesuatu untuknya. Kerasnya hidup telah dia taklukkan demi aku. Semua bagian tubuhnya telah dia berikan untuk kebebasanku. Dia sudah tua untuk menjadi muda, tapi dia selalu muda dalam memberiku. Ah..usia ternyata tidak menghalanginya untuk membesarkanku dalam kehidupan.
“wes beres kabeh?”. Irama yang begitu halus itu menghentak dalam gendang hatiku. Menyadarkanku bahwa dirinyalah sekarang satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupku. Lalu kenapa selama ini aku selalu menganggapnya tidak ada? Betapa durhakanya aku. Ibarat dosa telah menjadi daging.
“sudah, besok tinggal disetorke saja”. Jawabku singkat. Kupandangi wajahnya, dan yang kutemukan hanyalah pancaran ketulusan..begitu menyentuh.
“nek sudah, sekarang maem dulu”. Kemudian dia beringsut pergi ke belakang. Diambilnya cangkul dan sabit. Melangkah dalam derasnya rintik hujan. Sementara aku cuma bisa memandanginya dengan penuh harapan.

Semoga dia bisa memahami aku sebagai anaknya.

*father* i have you..


ibsntag


IBSN adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesians’ Beautiful Sharing Network http://ibsn.web.id

blue sunday

Awalnya saya begitu bahagia saat pagi tiba. Saya bisa melihat betapa indahnya biru pegunungan, betapa indahnya hijau dedaunan, dan betapa segarnya hidup ini..meski demikian saya sebenarnya takut dengan datangnya mendung…

Dan memang lebih dari mendung yang datang, derasnya air hujan menghilangkan segala harapanku. Semakin kurasakan hujan itu, semakin menghancurkan birunya gunung, hijaunya daun, dan membekukan nafasku…

Pagi tidak lebih dari sekedar pagi…

Aku telah basah dan beku dalam derasnya hujan pagi.

04 Mei 2009

yujokarto

Yujo…hmmm…malioboro, beringharjo, karo klithikan…habis itu terus gudeg, jogchick, mbak barni, yu surat, lanjut ke pak min. belum puas lanjut tlusap-tlusup turut mie ayam Jakarta selokan, jajan pasar sagan, pasar gedongkiwo, nongkrong di angkringan ari tulang. Jangan lupa dawet rel, jamu santoso, terus parkir nangkring di blandongan..agak keren dikit, mampir shoping center, gramedia, social agency, atawa toga mas…paling suka lagi kalo ada pameran nemu yusuf agency atau kompas gramed..mborong!

Yujo…dulu adem, sejuk, nyaman…masih keliatan asri. Jalan-jalan lancer menyenangkan. Banyak urang nenteng buku berjalan sopan. Pakaian indah sedap dipandang. Sekarang Yujo panas, gerah, semrawut, banyak tuko2 dan motor.. jalan-jalan malah menegangkan..banyak urang nenteng hape, berjalan menantang. Pakaian ketat tipis mengoda untuk diterawang..

Ah..lain dulu lain sekarang..dulu lain, sekarang lain..yang ditunggu hanya malam minggu..

Seperti menjelma menjadi sosok asing di kota ini. tanpa sodara dan tidak kenal siapa-siapa (tadinya sih kenal Juki, Sugeng, Krabowo, Gutrisno bh., dan poro demang). Tapi lama-kelamaan, karena modernitas, mereka yang gentian tidak mengenal aku. Bener-bener asing. Lewat depan mall, eh malah dicibir, lewat depan sekolah, malah disepelekan, akhirnya kuberanikan lewat depan pos pulisi, lha kok jebulnya malah kena denda (doh)..katanya di kota ini spion harus 2, knalpot kudu standar..
“itu knalpot motornya tidak standar mas..”
“lha bukankah dari dulu knalpot motor juga begitu? Ada bunyinya? Justru kalo yang tidak bunyi itu yang tidak standar” jawabku.
“itu masalahe mas sendiri, cuba kalau tadi tidak lewat sini, pasti aman.” Masih sibuk nulis surat tilang..terus dia ngemeng lagi “mbok tadi lewat depan mall saja, atau lewat depan sekulah, masnya malah bisa ngirit 20-50 ribu lho”

Wualah…sek-sek iki malah nguantuk…padahal lagi mud iki (doh)…(huaam)

Yujo sudah tidak kenal lagi. Yujo kenalnya sudah sama orang-orang berduit. Yujo spertinya sudah tidak mau kenal lagi dengan orang yang pas-pasan, ya wajah ya penghasilan, hidupnya. .hayyikk!. lha pancen aku ngalami sendiri, ngeliat sendiri kahanan yujo sekarang. Dulu orang jalan lewat daerah selokan, ugm dan babarsari , itu mikir 101 kali. Bukan karena takut banjier (weks!) tapi karena jalanannya masih sepi, rungkut (rimbun = penuh semak belukar), gelap, dan menyeramkan ,pokoke. Lha baningkan sekarang, (doh) orang malah lebih milih lewat selokan (maksud saya bukan diselokannya, tapi daerahe…jo goblok2 banget to) karena sudah rame..jalane padang (terang lampu), banyak toko, tempat kuliner, dan nongkrong. Selain itu, bagi cewek maupun cowok, juga lebih GerSang nek lewat selokan. Buktikan saja, pasti sampeyan2 itu betah nek liwat selokan. Lha nek sudah membuktikan silahkan komeng di blog ini. lalu berpikir bahwa aku ora nggladrah koyo nang plurek, tapi aku bicara apa yang ku alami tentang yujo saiki..

Dulu favorit cuci mata urang-urang (ya awam, kaya, miskin, rakyat biasa, pengangguran, pelajar sampai mahasiswa) adalah ramai mall atau malioboro mall, agak elit adalah galeria, tapi sekarang dari pojok yujo kulon sampai yujo pojok timur malah digelar apa yang disebut eMall. Sak yujo kui eMall kabeh!. Belum lagi parade cafĂ©, baik yang coro maupun godam, tharik-tharik (berderet-deret) menghiasi pinggiran dan tengahan Yujo. Penduduk Yujo, baik aseli maupun pendatang, dikondisikan untuk dibuat bingung dengan pagelaran tersebut. Padahal sebenernya mereka sadar –sesadar-sadarnya- termasuk penulis (mau tidak mau harus diakui) dijajah oleh mainstream budaya (ya gak lain trend budaya=budaya pop= pop culture). Yujo diajak secara sadar untuk beralih budaya, dari berhati nyaman menjadi berhati nyam-nyam (dagadu courtesy). Yujo menjadi kejam, karena menuntut seseorang untuk mengarus pada suatu budaya yang tidak jelas. Ingat dulu Yujo dikenal karena budaya dan pendidikannya…apakah imej itu harus terhapus oleh glamouritas dari Yujo sendiri?

Mari kita selamatkan Yujo demi kelangsungan budaya dan kualitas pendidikan anak cucu dan cicit kita.

02 Mei 2009

atur kapu

aku selalu suka dengan kebencian.


taukah kalian? bahwa kebencian adalah keindahanku, kekuatanku sekaligus sahabat setiaku.


maka sebaiknya kudendangkan saja lagu kebencian.