In good time, or bad time,
That’s what friends are for…(Stevie wonder)
Banyak sekali perumpamaan-perumpamaan dalam menyimbolkan persahabatan dalam kehidupan manusia. Cerita si titik, dan si unyil (dulu tayang di stasiun TVRI) menggambarkan betapa persahabatan telah menjadi buah dari pohon social. Persahabatan tidak memandang usia. Tua, muda, anak-anak, semua bisa menjalin persahabatan sesame, atau bahkan juga antar genre.
bener sperti yang diungkapkan (Ratna Mayasari) friends are always there for us, wherever or whenever we need...
Benarkah kita telah menjadi sahabat yang baik bagi sesame? Benarkah kita telah siap untuk menjadi pendengar, dan penggembira bagi sesame? Rasanya masih banyak hal yang perlu difahami dalam persahabatan. Sahabat bukanlah teman singkat, persahabatan bukanlah sesaat. Tetapi ia akan terus melekat seiring dengan berjalannya waktu. Friends in time..not in a moment…
Menjalin persahabatan adalah membangun hubungan. Saat semuanya telah kokoh berdiri maka dimulailah jejaring interaksi. Saling membantu, saling mendengar, dan bahkan konflik. Satu persatu katahanan komitmen diuji,sampai sejauhmana kekuatan menjadi sahabat bergeming. Saat kayu lapuk dan daun mengering, persahabatan tetaplah menghijau dan kokoh, tegar dan menancap kuat melambai seiring angin.
Banyak orang mengatakan bahwa persahabatan atau sahabat adalah pada masalah memberi bukan menerima. Siapa yang banyak member tanpa pamrih, maka dialah sejatinya teman.. tetapi jika dia hanyalah sebatas teman, maka dia akan meimnta banyak dari yang lain. Persahabatan adalah tindakan mulia, menjadi sahabat sejati adalah wujud dari kemuliaan hati.
Jadilah sahabat bagi sesamamu, jangan sia-siakan persahabatan. Kelak kita akan menuai keindahan dan keagungan dari persahabatan.
Cheers….
Tampilkan postingan dengan label jamaah ronda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jamaah ronda. Tampilkan semua postingan
27 April 2009
(dilema) Memilih: antara menerima dengan syarat, atau menolak dengan syarat…
Emang begitu bahasa kerennya. Dilemma, dilematis. Mmhh..mirip seorang direktur perusahaan yang harus memutuskan sebuah deal politis bagi kelangsungan hidup perusahaan. Tidak jauh beda dengan seorang striker sebuah kesebelasan ketika harus memutuskan untuk menendang langsung bola atau mengoper ketika sudah berhadap-hadapan dengan kiper kesebelasan lawan. Mirip juga dengan seorang artis atau pelamar yang harus meneken kontrak kerja ketika diterima dalam sebuah lingkungan kerja.
Tapi ini bukan perusahaan, ini bukan tim sepak bola, dan juga bukan melamar kerja atau menjadi artis. Ini tentang menikah…marriage, begitu wong londo bilang. Tapi toh resikonya juga sama, sama-sama memiliki impak dalam jangka panjang. Salah memutuskan berarti kelangsungan hidup juga terancam. Perusahaan bisa bangkrut, tim sepak bola bisa kalah karena striker gagal menyarangkan gol, artis bisa dirugikan produser selama karir, atau calon karyawan yang menjadi hanya menjadi perahan bos karena nego gaji yang tidak sempurna, dan parahnya bagi laki-laki atau perempuan bisa mendapatkan kadal buntung dalam kehidupan keluarganya. Kita harus memilih untuk memutuskan, ataukah kita harus memutuskan untuk memilih? Mumet juga to?
Aku rasa demikian kondisiku saat ini. harus memilih apakah aku harus memilih dia atau tidak. Memilih dia berarti aku harus menerima ketidaksepenuhan hati. Menolaknyapun berarti aku harus bisa menemukan seseorang yang bisa kuterima dengan sepenuh hati. Akupun berpikir bahwa sepenuh hati atau tidak itu sama. Karena ketika aku sudah memutuskan maka konsekuensinya adalah aku telah menerima keputusanku dengan kesadaran. Padahal kesadaran sendiri itulah penerimaan dari sepenuh hati. Tetapi menolaknyapun aku belum dapat pengganti..*wadduh..kacau cung, harus nyari nek gak jadi sama dia*
Sedikit bercerita tentang harapanku akan seorang istri. Aku memiliki banyak kriteria tentang calon istriku, hmm..calon itukan nantinya menjadi istri to?...
Pertama, aku menginginkan istriku bisa kuterima dengan hitungan fisik. *Jangan senyum sok tahu begitu..akupun yakin kalian juga sepakat denganku* cantik..jelas ya to? Apa kalian mau istri yang kalian pilih itu jelek..heh? tunjuk jari!
Cantik tidak harus mirip ini, tapi kecantikan versi kekaguman kita, kecantikan yang bisa kita terima dengan suka cita akal sehat dan nurani..piye to kalian itu, tentu saja wajahnya, parasnya. setelah cantik adalah tinggi (besar). Aku suka jika istriku berbadan tinggi (besar). Maksudnya bukan Cuma badannya thok yang tinggi, tapi secara dedeg..*opo nek dalam bahasa Indonesia itu*..nek dalam CV sih tinggi badan, ah pokoke tingginya tinggi. Nggak harus setinggi dan sebesar dia..160an naik dan turun dikit, sesuai dengan aku pokoknya *laras maksudku* . (semakin tinggi besar semakin baik..waka ka).
lha nek sudah ketemu tinggi badan, selanjutnya adalah bentuk badan, proporsional indak. Yah kalau harapanku mah maju dada pantat mundur *sama juga to dengan harapane sampeyan2 itu..nggak usah ketawwa, biasa aja, kita laki-laki normal kok* musikus bilang guitar Espanola lah…mmm kukira itu aja..eh sebentar ini soal rambut…*jangan yang begituan yah…* yang lurus2 ajah..
Kedua nih, calon istriku bisa memenuhi kriteria baik secara lahir bathin. Indak banyak-banyak..sehat lahir bathin dan baik secara moral agama. *iya maksudku begitu..hormat suami dan orang tua, ah..masak harus aku sebutkan juga?*
Kalau dua harapan itu sudah..*harapan pa kriteria sih? Jadi bingung* maka yang ketiga adalah aku suka jika calon istriku juga ikut ulet bekerja. Tujuannya jelas untuk memperkuat ekonomi perusahaan kami dikemudian hari..*rumah…rumah!*, selain itu tentunya karena aku menghargainya untuk bisa berkembang secara potensi kodrati, tanpa memeras ataupun memaksa. Aku hanya suka jika istriku mendapatkan kegiatan positif dari segi ekonomis, dengan demikian dia tidak merasa kesepian ataupun aku aku rendahkan, jika hanya berdiam diri saja dirumah. Tidak harus dengan pekerjaan dan penghasilan yang wah, tapi cukup dengan pekerjaan yang bisa meningkatkan potensinya. *jika mendapatkan yang wah juga preferable kok..weekks!*
Jadi apa aku harus menerima dia atau tidak..tinggi besar? tidak…maju dada pantat mundur? Tidak…rambut? Tidak…cantik? Tidak juga…sehat lahir bathin dan juga secara moral agama? Mmm sehat iya…secara pendidikannya juga lebih tinggi dariku..tentunya bathin agamanya lebih bagus, lebih sehat dariku *tapi bukan berarti aku tidak waras..awas ketawa kamu yah*, tingkat magister begitu…jadi sarapan sekolahnya banyakan dia. Terakhir secara potensi dia punya, cuman belum terberdaya, yah karena dia belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.
Ini seperti laga krusial bagiku. Kalau kecolongan gol dimenit-menit akhir bisa menjadikan aku pecundang seumur hidup..dan aku tidak mau hanya karena berbekal kasihan, kemudian ikut menjalani laga penting ini dalam fase final…
Menurut kalian, apakah aku berusaha menerima dia ataukah berusaha lagi mencari yang sesuai atau setidaknya yang mendekati?
how im supposed to get the big tall one...mmmh..ha ha
Tapi ini bukan perusahaan, ini bukan tim sepak bola, dan juga bukan melamar kerja atau menjadi artis. Ini tentang menikah…marriage, begitu wong londo bilang. Tapi toh resikonya juga sama, sama-sama memiliki impak dalam jangka panjang. Salah memutuskan berarti kelangsungan hidup juga terancam. Perusahaan bisa bangkrut, tim sepak bola bisa kalah karena striker gagal menyarangkan gol, artis bisa dirugikan produser selama karir, atau calon karyawan yang menjadi hanya menjadi perahan bos karena nego gaji yang tidak sempurna, dan parahnya bagi laki-laki atau perempuan bisa mendapatkan kadal buntung dalam kehidupan keluarganya. Kita harus memilih untuk memutuskan, ataukah kita harus memutuskan untuk memilih? Mumet juga to?
Aku rasa demikian kondisiku saat ini. harus memilih apakah aku harus memilih dia atau tidak. Memilih dia berarti aku harus menerima ketidaksepenuhan hati. Menolaknyapun berarti aku harus bisa menemukan seseorang yang bisa kuterima dengan sepenuh hati. Akupun berpikir bahwa sepenuh hati atau tidak itu sama. Karena ketika aku sudah memutuskan maka konsekuensinya adalah aku telah menerima keputusanku dengan kesadaran. Padahal kesadaran sendiri itulah penerimaan dari sepenuh hati. Tetapi menolaknyapun aku belum dapat pengganti..*wadduh..kacau cung, harus nyari nek gak jadi sama dia*
Sedikit bercerita tentang harapanku akan seorang istri. Aku memiliki banyak kriteria tentang calon istriku, hmm..calon itukan nantinya menjadi istri to?...
Pertama, aku menginginkan istriku bisa kuterima dengan hitungan fisik. *Jangan senyum sok tahu begitu..akupun yakin kalian juga sepakat denganku* cantik..jelas ya to? Apa kalian mau istri yang kalian pilih itu jelek..heh? tunjuk jari!
Cantik tidak harus mirip ini, tapi kecantikan versi kekaguman kita, kecantikan yang bisa kita terima dengan suka cita akal sehat dan nurani..piye to kalian itu, tentu saja wajahnya, parasnya. setelah cantik adalah tinggi (besar). Aku suka jika istriku berbadan tinggi (besar). Maksudnya bukan Cuma badannya thok yang tinggi, tapi secara dedeg..*opo nek dalam bahasa Indonesia itu*..nek dalam CV sih tinggi badan, ah pokoke tingginya tinggi. Nggak harus setinggi dan sebesar dia..160an naik dan turun dikit, sesuai dengan aku pokoknya *laras maksudku* . (semakin tinggi besar semakin baik..waka ka).
lha nek sudah ketemu tinggi badan, selanjutnya adalah bentuk badan, proporsional indak. Yah kalau harapanku mah maju dada pantat mundur *sama juga to dengan harapane sampeyan2 itu..nggak usah ketawwa, biasa aja, kita laki-laki normal kok* musikus bilang guitar Espanola lah…mmm kukira itu aja..eh sebentar ini soal rambut…*jangan yang begituan yah…* yang lurus2 ajah..
Kedua nih, calon istriku bisa memenuhi kriteria baik secara lahir bathin. Indak banyak-banyak..sehat lahir bathin dan baik secara moral agama. *iya maksudku begitu..hormat suami dan orang tua, ah..masak harus aku sebutkan juga?*
Kalau dua harapan itu sudah..*harapan pa kriteria sih? Jadi bingung* maka yang ketiga adalah aku suka jika calon istriku juga ikut ulet bekerja. Tujuannya jelas untuk memperkuat ekonomi perusahaan kami dikemudian hari..*rumah…rumah!*, selain itu tentunya karena aku menghargainya untuk bisa berkembang secara potensi kodrati, tanpa memeras ataupun memaksa. Aku hanya suka jika istriku mendapatkan kegiatan positif dari segi ekonomis, dengan demikian dia tidak merasa kesepian ataupun aku aku rendahkan, jika hanya berdiam diri saja dirumah. Tidak harus dengan pekerjaan dan penghasilan yang wah, tapi cukup dengan pekerjaan yang bisa meningkatkan potensinya. *jika mendapatkan yang wah juga preferable kok..weekks!*
Jadi apa aku harus menerima dia atau tidak..tinggi besar? tidak…maju dada pantat mundur? Tidak…rambut? Tidak…cantik? Tidak juga…sehat lahir bathin dan juga secara moral agama? Mmm sehat iya…secara pendidikannya juga lebih tinggi dariku..tentunya bathin agamanya lebih bagus, lebih sehat dariku *tapi bukan berarti aku tidak waras..awas ketawa kamu yah*, tingkat magister begitu…jadi sarapan sekolahnya banyakan dia. Terakhir secara potensi dia punya, cuman belum terberdaya, yah karena dia belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.
Ini seperti laga krusial bagiku. Kalau kecolongan gol dimenit-menit akhir bisa menjadikan aku pecundang seumur hidup..dan aku tidak mau hanya karena berbekal kasihan, kemudian ikut menjalani laga penting ini dalam fase final…
Menurut kalian, apakah aku berusaha menerima dia ataukah berusaha lagi mencari yang sesuai atau setidaknya yang mendekati?
how im supposed to get the big tall one...mmmh..ha ha
menjadi sarjana itu..
Setiap ngomongke kata sarjana, semua orang pasti menengok ke arahku. Bukan karena aku seorang sarjana, tapi karena "nama" akulah Sarjana. Menurut emak, nama itu di berikan oleh bapak sebagai harapan bahwa anaknya kelak bisa menjadi sarjana. Menjadi orang dengan tingkat pendidikan tinggi. Bisa berguna bagi lingkungan sekitarnya. Yah, namanya juga sarjana tentu saja dianggap serba bisa. Tidak memandang apakah mereka sarjana pendidikan, teknik, atau perpustakaan dan sarjana yang macam lain, yang penting semua sarjana pasti pinter dalam segala hal. Nah, dalam hal inilah maka semua orang dikampungku selalu semangat jika topic obrolannya adalah sarjana. Entah semangat untuk mengolok atau sebenarnya merasa kasian dengan sarjana itu juga belum diketahui. Yang jelas obrolan sarjana selalu mengalir deras saat orang-orang berkumpul di pos ronda. Dan sudah jelas jika temanya sarjana maka aku akan menjadi bumbu olokan yang hangat bagi tukang nongkrong di pos ronda. Tidak terkecuali malam ini.
Pos ronda menjadi tempat favorit nongkrong di kampung. Tidak pandang usia, tua muda sampai anak-anak sering menjadikannya ajang ngerumpi ala bapak-bapak maupun anak-anak. Lho jangan salah, sekarang anak-anak juga jago ngerumpi (mungkin membual ya..). dan malam hari ini adalah giliran kaum tua yang berkumpul. Lumayan komplit, ada Juki dan Sugeng yang jadi pentolan nongkrong, Pahfud yang nggak jelas manuvernya, ditambah Krabowo, Gutrisno bh, Mrizal, dan demang-demang (koclok) yang selalu mengikuti tren obrolan. Lagi-lagi sarjana menjadi perbincangan seru, terpaksa aku pun harus selalu mempersiapkan diri dengan muka dan telinga tebal.
“Jek, kalo ngeliat sarjana sekarang sepertinya enak yah?” Tanya Sugeng pada Juki.
“ha ha..enak minta duitnya, enak membelanjakannya, begitu?” Juki dengan gaya sindiran ala intelektual menjawab pertanyaan Sugeng.
“ya itu 2 diantaranya.”
“Lho?! Memang ada berapa enaknya jadi sarjana Sus?” kali ini JUki terheran-heran dengan maneuver Sugeng.
SUgeng melihat ke arahku. Lalu berbalik menatap Juki, Pahfud, Krabowo, Gutrisno bh dan MRizal. Belum sempat aku tersadar para demang-demang itu sudah ketawa duluan.
“Tanya saja sama ahlinya Jek.” Sugeng "menyebut panggilan keren Juki" kemudian menatap kearahku. Dan tanpa dikomando semua hadirin pos ronda terkekeh-kekeh menyusul ketawanya para demang.
“banyak sarjana yang tidak sadar kalau duit kuliahnya itu adalah keringat orang tuanya. Jadinya mereka sak geleme dewe. Ada yang buat beli miras, drugs (wah keren juga bahasa Sugeng) dan semacamnya, padahal setahu orang tua di kampung (apa kota ya?) duitnya digunakan buat kuliah yang bener macam beli buku-buku dan kegiatan kuliahan lain.”
Krabowo yang dari tadi berkemul sarung agaknya mulai gatal juga mendengar dominasi dua orang itu.
“Itulah akibat dari degradasi moral. Pemerintahan sekarang ini Cuma cerdas mengklaim keberhasilan ekonomi, tetapi lupa dengan hakikat peradaban.” Kali ini Krabowo bangkit dari duduknya. Dengan gayanya yang meledak-ledak berceritalah ia soal kehidupan kaum desa yang miskin, dan kaum kota (yang juga miskin). Sesekali ia melontarkan pertanyaan retoris.
“kamu kalau ngomong lupa tetangga Wo”. Gutrisno mulai unjuk diri.
“hakikat dari peradaban itu sendiri apa coba?” timpal Gutrisno bh.
“ellhoh..ya moral. Moral!”
“Moral yang seperti apa? apa kita ini tidak bermoral?” Pahfud menatap tajam Krabowo.
“contohnya kan jelas, sekarang ini banyak wakil rakyat di pemerintahan yang punya hobi korupsi. Padahal mereka juga sarjana lho. Apa itu bukan gejala degradasi moral?” Krabowo mulai serius. Urat lehernya makin membesar.
“betul joga Wo, itu karena sarjana sekarang suka membeli gelar. Karena mahal maka korupsi menjadi jalan alternative mengembalikan modal. Mirip masuk jadi polisi!” Sugeng nekat.
“Iya semua diembat, asal bisa jadi penghasilan sambilan”
“mirip kamu Jek, suka ngembat tapi gak keliat..” Sugeng terkekeh-kekeh.
“gerr!” Semua jamaah pos ronda tertawa.
“ya asal jangan seperti Sarjana aja” seorang demang mulai menggarap lahan kelemahanku.
“memangnya kenapa, mang?”
“lha itu pak jek, sarjana sekarang tidak mau bermandi lumpur. Maunya langsung jadi pegawai tinggi, lalu jadi priyayi. Nyari istri juga sesame priyayi, akhirnya repot.”
Semua jamaah pos ronda menatapku dengan tatapan meledek. Kubenamkan wajahku kedalam sarung.
“iya..aku ngerti..pengangguran!” jawabku
“Gerrr” semua jamaah terpingkal-pingkal mendengar jawabku. Aku memang pengangguran,meski sarjana, namun bukan berarti aku tidak mendambakan pekerjaan kan?.
Pos ronda menjadi tempat favorit nongkrong di kampung. Tidak pandang usia, tua muda sampai anak-anak sering menjadikannya ajang ngerumpi ala bapak-bapak maupun anak-anak. Lho jangan salah, sekarang anak-anak juga jago ngerumpi (mungkin membual ya..). dan malam hari ini adalah giliran kaum tua yang berkumpul. Lumayan komplit, ada Juki dan Sugeng yang jadi pentolan nongkrong, Pahfud yang nggak jelas manuvernya, ditambah Krabowo, Gutrisno bh, Mrizal, dan demang-demang (koclok) yang selalu mengikuti tren obrolan. Lagi-lagi sarjana menjadi perbincangan seru, terpaksa aku pun harus selalu mempersiapkan diri dengan muka dan telinga tebal.
“Jek, kalo ngeliat sarjana sekarang sepertinya enak yah?” Tanya Sugeng pada Juki.
“ha ha..enak minta duitnya, enak membelanjakannya, begitu?” Juki dengan gaya sindiran ala intelektual menjawab pertanyaan Sugeng.
“ya itu 2 diantaranya.”
“Lho?! Memang ada berapa enaknya jadi sarjana Sus?” kali ini JUki terheran-heran dengan maneuver Sugeng.
SUgeng melihat ke arahku. Lalu berbalik menatap Juki, Pahfud, Krabowo, Gutrisno bh dan MRizal. Belum sempat aku tersadar para demang-demang itu sudah ketawa duluan.
“Tanya saja sama ahlinya Jek.” Sugeng "menyebut panggilan keren Juki" kemudian menatap kearahku. Dan tanpa dikomando semua hadirin pos ronda terkekeh-kekeh menyusul ketawanya para demang.
“banyak sarjana yang tidak sadar kalau duit kuliahnya itu adalah keringat orang tuanya. Jadinya mereka sak geleme dewe. Ada yang buat beli miras, drugs (wah keren juga bahasa Sugeng) dan semacamnya, padahal setahu orang tua di kampung (apa kota ya?) duitnya digunakan buat kuliah yang bener macam beli buku-buku dan kegiatan kuliahan lain.”
Krabowo yang dari tadi berkemul sarung agaknya mulai gatal juga mendengar dominasi dua orang itu.
“Itulah akibat dari degradasi moral. Pemerintahan sekarang ini Cuma cerdas mengklaim keberhasilan ekonomi, tetapi lupa dengan hakikat peradaban.” Kali ini Krabowo bangkit dari duduknya. Dengan gayanya yang meledak-ledak berceritalah ia soal kehidupan kaum desa yang miskin, dan kaum kota (yang juga miskin). Sesekali ia melontarkan pertanyaan retoris.
“kamu kalau ngomong lupa tetangga Wo”. Gutrisno mulai unjuk diri.
“hakikat dari peradaban itu sendiri apa coba?” timpal Gutrisno bh.
“ellhoh..ya moral. Moral!”
“Moral yang seperti apa? apa kita ini tidak bermoral?” Pahfud menatap tajam Krabowo.
“contohnya kan jelas, sekarang ini banyak wakil rakyat di pemerintahan yang punya hobi korupsi. Padahal mereka juga sarjana lho. Apa itu bukan gejala degradasi moral?” Krabowo mulai serius. Urat lehernya makin membesar.
“betul joga Wo, itu karena sarjana sekarang suka membeli gelar. Karena mahal maka korupsi menjadi jalan alternative mengembalikan modal. Mirip masuk jadi polisi!” Sugeng nekat.
“Iya semua diembat, asal bisa jadi penghasilan sambilan”
“mirip kamu Jek, suka ngembat tapi gak keliat..” Sugeng terkekeh-kekeh.
“gerr!” Semua jamaah pos ronda tertawa.
“ya asal jangan seperti Sarjana aja” seorang demang mulai menggarap lahan kelemahanku.
“memangnya kenapa, mang?”
“lha itu pak jek, sarjana sekarang tidak mau bermandi lumpur. Maunya langsung jadi pegawai tinggi, lalu jadi priyayi. Nyari istri juga sesame priyayi, akhirnya repot.”
Semua jamaah pos ronda menatapku dengan tatapan meledek. Kubenamkan wajahku kedalam sarung.
“iya..aku ngerti..pengangguran!” jawabku
“Gerrr” semua jamaah terpingkal-pingkal mendengar jawabku. Aku memang pengangguran,meski sarjana, namun bukan berarti aku tidak mendambakan pekerjaan kan?.
Langganan:
Postingan (Atom)